April 22, 2013

[Book Review] ASSASSIN'S CREED: RENAISSANCE by OLIVER BOWDEN

DOKTRIN PEMBUNUH BAYARAN LAHIR KEMBALI
KEBENARAN AKAN DITULIS DENGAN DARAH

“Aku akan membalas mereka yang mengkhianati keluargaku. Namaku Ezio Aditore da Firenze. Aku seorang pembunuh bayaran...”



Cerita dibuka dengan pertarungan 2 kelompok yang masing-masing di pimpin putra dari para bangsawan yang cukup berpengaruh di Florence, sebuah kota di Italia. Tokoh utama bernama Ezio, putra ke dua keluarga Auditore, tengah berselisih dengan putra tunggal keluarga Pazzi, Vieri. Keberuntungan berpihak pada kelompok Auditore meski seorang anak buah Pazzi berhasil melukai kening Ezio. Untunglah Federico, kakak Ezio datang dan berhasil membujuk Ezio untuk pulang dan tidak terus mengejar Vieri. Keluarga Auditore memang telah lama bermusuhan dengan Pazzi yang seringkali menyebar fitnah, sedangkan permusuhan Ezio dan Vieri bermula dari sikap tidak sopan Vieri terhadap gadis yang ditaksir Ezio, Cristina Calfucci.

Cerita semakin pelik ketika keluarga Auditore difitnah sebagai pengkhianat oleh Ketua Resmi Dewan Pejabat Florence, Uberto Alberti, yang juga merupakan sahabat ayah Ezio. Giovanni Auditore, ditangkap bersama 2 putranya Federico dan si kecil Petruccio. Palazzo Auditore diobrak-abrik, meski untungnya mereka tidak menangkap Maria, ibu Ezio, dan Claudia, adik perempuan Ezio. Saat peristiwa buruk itu terjadi, Ezio tengah mengantarkan dokumen atas perintah ayahnya. Maka, meski selamat, Ezio tidak berdaya melihat ayah, kakak, dan adik laki-lakinya digantung di depan massa. Atas pertolongan Annetta, pengurus rumah tangga Auditore, Ezio, ibu serta adik perempuannya bersembunyi di tempat Paola, saudara Annetta. Dibawah bimbingan Paola, Ezio belajar beberapa hal yang kelak akan berguna untuk misi balas dendamnya terhadap Uberto Alberti.

Dari sinilah dimulai perjalanan panjang Ezio untuk memenuhi takdirnya sebagai anggota Ordo Assasin, sebuah kelompok yang mengabdikan diri untuk memerangi tirani para Templar.

Secara pribadi, menurut saya ide cerita buku ini sebenarnya klasik dan sudah umum. Cerita kepahlawanan, kebaikan melawan kejahatan dimana kebaikan selalu menang. Meski begitu, saat melihatnya bertengger di rak buku perpustakaan kota, saya tidak bisa tidak mengambilnya. Mungkin karena saya memang suka cerita dengan darah bertebaran di setiap bab. Buku ini sendiri berdasarkan game terlaris Ubisoft, Assasin's Creed II.

Di lembar-lembar awal saya langsung dikecewakan oleh tata bahasa yang berantakkan. Entah itu memang dari sananya, atau kualitas terjemahan yang buruk, yang jelas saya menemukan banyak sekali kalimat-kalimat janggal dan tidak efektif. Action nya sendiri cukup lumayan, meski sekali lagi di cerita kan dengan tata bahasa yang berantakan. Penjelasan mengenai senjata yang di pakai oleh Ezio lah yang menarik perhatian saya. Sisipan kata-kata bahasa Italia terkadang mengganggu. Meski di halaman belakang buku diberi kamus terjemahan bahasa Italia dan Latin, namun beberapa kata tidak ditemui sehingga saya hanya bisa mengira-ngira artinya.

Belum lagi alur yang sangat cepat, detail pada hal yang tidak penting, dan penggalian karakter yang hanya berpusat pada tokoh utama sehingga tokoh lain selain Ezio seperti hanya numpang lewat. Padahal bila di lihat dari ceritanya, tokoh-tokoh tersebut berperan penting mengajarkan Ezio ajaran-ajaran Ordo Assasin. Dan ending cerita membuat saya mengerutkan kening kebingungan.

Cover buku yang menampilkan seorang pemuda bertudung dengan jubah dan senjata rahasia di lengannya menurut saya cukup menarik. Pemuda heroik yang misterius, gadis mana yang tidak penasaran? Hehe

Secara keseluruhan saya kecewa dan menuntaskan buku ini dengan sedikit pemaksaan diri. Sayang jika tidak dibaca karena sudah terlanjur pinjam ke perpustakaan. Dan saya tidak yakin akan membaca 2 buku lanjutannya Brotherhood dan Revelation, yang sempat saya lihat nangkring di rak buku perpustakaan kota mengingat tata bahasa yang berantakkan.

Penerbit: Ufuk Press
Ketebalan: 591 halaman

2/5



READ MORE - [Book Review] ASSASSIN'S CREED: RENAISSANCE by OLIVER BOWDEN