DOKTRIN PEMBUNUH BAYARAN LAHIR KEMBALI
KEBENARAN AKAN DITULIS DENGAN DARAH
“Aku akan membalas mereka yang
mengkhianati keluargaku. Namaku Ezio Aditore da Firenze. Aku seorang
pembunuh bayaran...”
Cerita dibuka dengan pertarungan 2
kelompok yang masing-masing di pimpin putra dari para bangsawan yang
cukup berpengaruh di Florence, sebuah kota di Italia. Tokoh utama
bernama Ezio, putra ke dua keluarga Auditore, tengah berselisih
dengan putra tunggal keluarga Pazzi, Vieri. Keberuntungan berpihak
pada kelompok Auditore meski seorang anak buah Pazzi berhasil melukai
kening Ezio. Untunglah Federico, kakak Ezio datang dan berhasil
membujuk Ezio untuk pulang dan tidak terus mengejar Vieri. Keluarga
Auditore memang telah lama bermusuhan dengan Pazzi yang seringkali
menyebar fitnah, sedangkan permusuhan Ezio dan Vieri bermula dari
sikap tidak sopan Vieri terhadap gadis yang ditaksir Ezio, Cristina
Calfucci.
Cerita semakin pelik ketika keluarga
Auditore difitnah sebagai pengkhianat oleh Ketua Resmi Dewan Pejabat
Florence, Uberto Alberti, yang juga merupakan sahabat ayah Ezio.
Giovanni Auditore, ditangkap bersama 2 putranya Federico dan si kecil
Petruccio. Palazzo Auditore diobrak-abrik, meski untungnya mereka
tidak menangkap Maria, ibu Ezio, dan Claudia, adik perempuan Ezio.
Saat peristiwa buruk itu terjadi, Ezio tengah mengantarkan dokumen
atas perintah ayahnya. Maka, meski selamat, Ezio tidak berdaya
melihat ayah, kakak, dan adik laki-lakinya digantung di depan massa.
Atas pertolongan Annetta, pengurus rumah tangga Auditore, Ezio, ibu
serta adik perempuannya bersembunyi di tempat Paola, saudara Annetta.
Dibawah bimbingan Paola, Ezio belajar beberapa hal yang kelak akan
berguna untuk misi balas dendamnya terhadap Uberto Alberti.
Dari sinilah dimulai perjalanan panjang
Ezio untuk memenuhi takdirnya sebagai anggota Ordo Assasin, sebuah
kelompok yang mengabdikan diri untuk memerangi tirani para Templar.
Secara pribadi, menurut saya ide cerita
buku ini sebenarnya klasik dan sudah umum. Cerita kepahlawanan,
kebaikan melawan kejahatan dimana kebaikan selalu menang. Meski
begitu, saat melihatnya bertengger di rak buku perpustakaan kota,
saya tidak bisa tidak mengambilnya. Mungkin karena saya memang suka
cerita dengan darah bertebaran di setiap bab. Buku ini sendiri
berdasarkan game terlaris Ubisoft, Assasin's Creed II.
Di lembar-lembar awal saya langsung
dikecewakan oleh tata bahasa yang berantakkan. Entah itu memang dari
sananya, atau kualitas terjemahan yang buruk, yang jelas saya
menemukan banyak sekali kalimat-kalimat janggal dan tidak efektif.
Action nya sendiri cukup lumayan, meski sekali lagi di cerita kan
dengan tata bahasa yang berantakan. Penjelasan mengenai senjata yang
di pakai oleh Ezio lah yang menarik perhatian saya. Sisipan kata-kata
bahasa Italia terkadang mengganggu. Meski di halaman belakang buku
diberi kamus terjemahan bahasa Italia dan Latin, namun beberapa kata
tidak ditemui sehingga saya hanya bisa mengira-ngira artinya.
Belum lagi alur yang sangat cepat,
detail pada hal yang tidak penting, dan penggalian karakter yang
hanya berpusat pada tokoh utama sehingga tokoh lain selain Ezio
seperti hanya numpang lewat. Padahal bila di lihat dari ceritanya,
tokoh-tokoh tersebut berperan penting mengajarkan Ezio ajaran-ajaran
Ordo Assasin. Dan ending cerita membuat saya mengerutkan kening
kebingungan.
Cover buku yang menampilkan seorang
pemuda bertudung dengan jubah dan senjata rahasia di lengannya
menurut saya cukup menarik. Pemuda heroik yang misterius, gadis mana
yang tidak penasaran? Hehe
Secara keseluruhan saya kecewa dan
menuntaskan buku ini dengan sedikit pemaksaan diri. Sayang jika tidak
dibaca karena sudah terlanjur pinjam ke perpustakaan. Dan saya tidak
yakin akan membaca 2 buku lanjutannya Brotherhood dan Revelation,
yang sempat saya lihat nangkring di rak buku perpustakaan kota
mengingat tata bahasa yang berantakkan.
Penerbit: Ufuk Press
Ketebalan: 591 halaman
2/5
